Panas terik memaksa aku pulang, tenggorakanku kering, ku jilat kedua sudut bibirku bergantian, sepertinya pecah dan berdarah. Telapak kakiku yang tak beralas, menebal karena kapalan merasakan panas aspal yang menyengat, keringat membasahi pelipis, mengalir kemata terasa perih.
Sampai di rumah kudapati adikku
yang baru 4 bulan tergeletak dilantai, memakan jari jemarinya sambil mengeluarkan
suara-suara yang aneh dari mulutnya, disampingnya kudapati ibu yang sedang terlentang, tertidur.
Aku berjinjit masuk, agar
tidak membangunkan ibu, kulihat adiku Reni mencuci baju dan popok di kamar mandi
yang sempit, sementara kulihat piring dan peralatan dapur berserakan di atas meja belum di rapikan. Sungguh pemandangan seperti ini membuatku lelah dan
lemas.
Rumah tinggal kami sempit,
berdinding triplek dan beratap seng, terbagi menjadi 2 ruangan, ruangan yang pertama berukuran 3x2m,
disanalah kami duduk-duduk, makan, tidur, dan kadang-kadang menerima tamu. ruangan
lainnya adalah ruangan berukuran 2x2m, diruangan itu hanya ada 3 kardus tempat meletakkan
pakaian. Diruangan ini juga diletakkan meja dan kompor untuk memasak.
Kuambil gelas plastik
untuk mengambil air minum yang masih berada di panci, diatas kompor, masih
hangat, badanku makin berkeringat deras, kubuka dandang yang masih tertutup, hanya
ada sedikit sisa nasi yang menempel kering, kubuka panci satu lagi, tak ada
apapun juga, seperti biasa.
“Cari apa? Makanan? Tak
ada makanan? sudah kubilang kalau tak bawa uang jangan pulang.” Suara ibu dari
ruangan depan membuatku semakin lelah, badanku terasa panas, pipiku panas,
kepalaku panas dan mataku juga berair panas, gigiku gemerutuk, menggigil seperti
orang kedinginan.
Hampir tiap hari ibu
mengata-ngataiku dengan perkataan kasar dan menyakitkan, kalau hanya tak di
beri makan tak apalah, asal ibu memperlakukanku dengan baik. Hatiku sakit,
seharusnya ibu memberi kami makan, seharusnya ibu memberikan kami pendidikan
dan kasih sayang yang baik, tapi tidak. Kalian tak usah tanya kemana bapakku,
aku juga tidak pernah tahu siapa bapakku, siapa bapak Reni dan siapa bapak
Hendrik, ibu tidak pernah menikah.
Kukeluarkan recehan hasil
upah menjual Koran yang kuambil dari kios buku Mas Prapto pagi tadi. biasanya
kurapikan dulu sebelum kuberikan pada ibuku, tapi kali ini beberapa recehan
kumal dan segenggam koin kulemparkan
kemuka ibuku, aku marah, aku pergi dan berjanji tak akan pernah kembali.
Sejak itu, tak pernah aku
menjumpai ibu lagi, aku pergi kemana kaki membawaku pergi, aku bekerja
membersihkan gerbong kereta kelas ekonomi, menyinggahi kota-kota kecil setiap
kali kereta berhenti, dari stasiun satu ke stasiun yang lainnya. Aku hidup
dengan keras, terkadang aku berkelahi, sesekali mencuri karena terpaksa dan
dipaksa, usiaku masih 8 tahun, aku tidak sekolah, aku harus bekerja menghidupi
ibu dan kedua adikku.
Setiap bulan aku mampir
kekampungku, di depan gang aku menemuai adikku Reni, tanpa pernah ingin menginjakkan
kaki ke rumah lagi, meski rindu pada ibuku begitu besar, rindu menatap matanya,
rindu bantal kami yang kumal, rindu pada lantai ubin yang lembab dan dingin.
Kuusap rambut adikku Reni
yang kusam dan merah, ku berikan dia satu kantung tas plastik berisi, beras,
kopi , gula dan dua bungkus mi instant
rasa soto. Kuselipkan uang limabelas
ribu di tangannya. Ku usap pipi Hendrik adikku yang dulu ketika aku pergi masih
berumur 4 bulan, kini sudah berumur 2 tahun di gendongan Reni, badannya kurus, pipinya
tirus, matanya cekung, rambutnya tumbuh tipis, berwarna merah dan jarang.
“Mas,..pulang
Mas,..” bisik Reni dengan mata berkaca-kaca,..
“Mas nggak akan pulang, sebelum membawa banyak
uang untuk Ibu.” Jawabku dengan pandangan jauh kearah ujung gang.
“Tapi Ibu sudah berpulang, seminggu yang lalu, Ibu
sudah tidak butuh uang Mas.” terbata-bata Reni berucap, air mata mengalir dari
kedua matanya.
Aku tertunduk, mendekap erat kedua adikku, dan menangis.
Tentang Rangga
Panjang jiwo, 19 September 1999
Tidak ada komentar:
Posting Komentar